Ketika itu pagi cerah aku beranjak dari rumah tercinta menuju tempat dimana aku menuntut ilmu (Hauzah). Hauzah adalah tempat dimana biasanya diajarkan ilmu-ilmu agama seperti fiqh, aqidah, mantiq, dan ushul. Aku berjalan dengan harapan aku akan mendapatkan sesuatu sambil kutatap langit yang biru dengan tersenyum kulanjutkan perjalananku. Hauzah dari rumahku berjarak 5 km, jadi aku harus naik angkutan untuk sampai ke hauzahku.
Sampai aku di hauzah setelah seorang ustad memberi materi, kita diberi waktu 1 jam untuk berdiskusi tentang apa yang kita dapat dari pembelajaran kita. Pada saat aku dan teman-teman hauzahku berdiskusi, kudengar dari awal pembahasan mereka hanya berbicara hadis-hadis dari Imam-Imam ahlulbait. Dalam hati kecil aku bertanya apa mereka tidak punya Rosul? Atau mereka tidak punya Al-Qur’an sebagai sumber pertama mereka. Kenapa mereka selalu menyebut imam ini imam itu berkata seakan mereka tidak kenal dengan firman Allah dan sabda Nabi.
Berprasangka baik lebih baik daripada bersangka buruk. Aku berkata dalam hatiku mungkin pada pembahasan itu mereka tidak perlu menunjukkan bukti atau dalil-dalil yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadis nabi atau mungkin masalah itu tidak terlalu sulit. Seminggu aku lihat perkembangan mereka, tapi mereka tidak berhenti menggunakan hujjah dengan perkataan imam fulan dan fulan. Aku selalu bertanya kenapa mereka jauh dari al-Qur’an? Apa itu yang diajarkan oleh ulama-ulama hauzah? Aku harus menemukan jawaban itu dengan cara aku harus membaca hadis-hadis dari imam-imam ahlulbait tentang Al-Qur’an dan kitab-kitab karangan ulama-ulama hauzah agar aku bisa menegur mereka.
Syeikh Kulaini seorang ahli hadis yang mana karyanya Al-Kafi dijadikan sebagai rujukan oleh mazhab syiah menukil sebuah riwayat dari Ja’far As-Shadiq (ra) :
علي بن إبراهيم، عن أبيه، عن الحسن بن أبي الحسين الفارسي، عن سليمان بن جعفر الجعفري، عن السكوني، عن أبي عبدالله عليه السلام قال: قال رسول الله صلى الله عليه وآله: إن أهل القرآن في أعلى درجة من الآدميين ما خلا النبيين و
المرسلين فلا تستضعفوا أهل القرآن حقوقهم فإن لهم من الله العزيز الجبار لمكانا عليا.
Ja’far Shadiq (ra) berkata: Rosulullah berkata: “Sesungguhnya ahli Qur’an berada pada derajat yang paling atas dari anak-anak adam kecuali para nabi dan rosul maka janganlah kalian meremehkan hak hak ahli Qur’an sesungguhnya mereka disisi Allah memiliki tempat yang tinggi.”
Sungguh mulia orang-orang yang perhatian terhadap Al-Qur’an sehingga Rosulullah memerintahkan kita untuk menjaga hak-hak mereka, sungguh beruntung seorang muslim yang menjadi teman Al-Qur’an karena Allah menyediakan tempat yang mulia untuk mereka.
Seorang ahli hadis dan seorang mujtahid Sayyid Muhammad Taqi Modarresi dalam karyanya Fi Rihab Al-Qur’an (Di Bawah Naungan Al-Qur’an) setelah beliau menjelaskan pentingnya Al-Qur’an dalam menghadapi era globalisasi ini, beliau menganjurkan kita untuk tidak berlepas dari kitab Allah tersebut. Beliau memberi judul khusus dalam kitab tersebut yaitu nahnu wa Al-Qur’an (Kita dan Al-Qur’an) dalam penjelasannya yang panjang beliau berkesimpulan bahwa pada zaman modern ini kita harus lebih dekat kepada Al-Qur’an karena orang-orang yang ingkar terhadap Al-qur’an pun pada saat ini mencari pencerahan ruhani dan pikiran dari Al-Qur’an seraya beliau membawakan ayat Al-Qur’an pada surat Al-Israa’ ayat ke-9 Allah swt berfirman:
…….إِنَّ هَذَا الْقُرْءَانَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِين.
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada jalan yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang beriman.”
Ketika kita merasa bahwa jalan yang kita tempuh adalah jalan yang lurus maka janganlah lupa bahwa Allah dalam kitabnya menjelaskan bahwa dengan al-Qur’anlah kita bisa menemukan jalan yang terlurus. Banyak kita lihat ketidakpedulian terhadap al-Qur’an terjadi pada era FB ini. Mungkin sudah saatnya kita membersihkan al-Qur’an yang sudah tebal dengan debu. Bukan hanya kita membersihkan mushafnya akan tetapi juga harus membersihkan isinya, karena isi al-Qur’an sudah menjadi alat kampanye, bisnis, dan komoditi agama Allah.
Kiranya saya akan tutup tulisan ini dengan nasehat dari Sayyidina Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Alhusein bin Ali bin Abi Thalib (ra):
"ثلاثة يشكون إلى الله عز وجل مسجد خراب لا يصلي فيه أهله، وعالم بين جهال، ومصحف معلق قد وقع عليه الغبار لا يقرأ فيه"
“Tiga yang akan datang mengadu kepada Allah masjid yang rusak karena tidak ada yang menempatinya untuk sholat, orang alim diantara orang orang bodoh, mushaf yang tebal oleh debu karena tidak perah dibaca”.
Minggu, 24 Januari 2010
Selasa, 19 Januari 2010
Sebuah perjalanan
Berjalan ke kota kota suriah adalah sesuatu yang menarik, pada tanggal 6 januari tepatnya saya dan teman teman saya berkeinginan untuk melangsungkan perjalanan ke sebuah kota kecil ditimur suriah yaitu Raqqah untuk berziarah ke makam sahabat nabi yang populer Ammar Bin Yaser. Waktu telah menunjukkan pukul 09.00 tepat waktu suriah, kami berjalan dari rumah tercinta kami Babbila menuju ke terminal bus boulman. Sesampainya di terminal kita mendapatkan kendala karena kita tidak membawa paspor. Peraturan yang dibentuk oleh pemerintah suriah untuk menjaga keamanan Negara adalah jika kita ingin keluar dari damaskus maka para turis diharuskan membawa paspor.
Diskusi panjang terjadi di antara kita tentang apakah kita harus melanjutkan perjalanan atau kita tunda? Salah seorang dari teman saya berkata lebih baik kita minta teman kita yang di Babbila untuk membawakannya ke terminal. Opsi ini kita sepakati bersama dan sambil menunggu teman kita datang, kita berkunjung ke makam sahabat nabi Hujr bin Ady yang terletak tidak jauh dari terminal bus tersebut. Hujr bin Ady adalah sahabat nabi yang terkenal dengan keberaniannya. Beliau berasal dari kabilah Kindah yang terkenal dengan ketangguhannya dalam berperang. Kabilah ini mempunyai posisi yang terpandang di wilayah jazirah arabiah yang sekarang dikenal Yaman.
Suasana ziarah yang begitu khusyuk membuat kita lupa akan waktu. Tak terasa adzan Zuhur pun diperdengarkan dan ketika sampai kepada lafadz adzan yang biasa dipakai oleh orang syiah yang dikenal dengan syahadah tsalisah (Asyhadu anna aliyyan waliyullah/hujjatullah). Saya menyeletuk bahwa lafadz ini tak berasas atau dengan kata lain bidah. Tetapi ucapan saya tidak digubris oleh teman-teman saya karena mereka sedang sibuk untuk mencari tempat wudhu’.
Seusai kita ziarah dan sholat di makam Hujr bin Ady yang tepatnya di daerah Adzraa’, kita kembai ke Boulman untuk beranjak ke Raqqah. Paspor kita telah berada di tangan lalu kita menaiki bus alsaeed dari Damaskus ke Raqqah dengan jarak tempuh 560km. Tibalah kita di Raqqah sekitar pukul 10 malam dan kita langsung beranjak dari terminal raqqah menuju pemakaman Sayyidina Ammar bin Yaser. Kita bermalam di asrama Sayyidina Ammar yang biasa disediakan untuk para peziarah.
Jamuan dari Sayyidina Ammar sangat luar biasa. Kita diberi kamar VIP karena kebetulan ketua makam adalah teman salah satu dari teman jalan kita yaitu Ahmad Al-Athas. Malam itu setelah kita makan malam terjadi diskusi panjang antara kita dengan tema yang sangat menarik yaitu “Tawassul.” Diskusi panjang yang akhirnya menghasilkan bahwa tidak ada yang bisa memberi syafaat kecuali atas izin Allah. Pagi harinya kita berziarah ke Sayyidina Ammar dan 2 sahabat Imam Ali bin Abi Thalib.
Setelah kami berziarah, seorang syeikh yang mana beliau adalah musyrif makam tersebut mengundang kami untuk sarapan pagi bersama. Beliau menjelaskan tentang keadaan kota Raqqah seraya berkata, “Pengikut syiah Ahlulbait disini hanya 100 orang, tapi Alhamdulillah kami tidak mengalami gangguan Cuma terkadang ada orang yang iseng yang melempar batu ke areal makam.” Azan zuhur akan segera dikumandangkan, salah satu teman kita bertanya, “Apa ketika azan anda membaca syahadah salisah?” Beliau menjawab, “iya,” seraya dia membawakan hadis-hadis tentang syahadah tersebut.
Ketika kita meneliti tentang syahadah salisah, kita akan temukan bahwa syahadah tersebut masih dipermasalahkan oleh para ulama syiah. Sebagian mereka mengatakan bahwa itu bukan rukun dari adzan akan tetapi itu sudah menjadi syiar bagi mazhab syiah. Sebagian lagi mengatakan bahwa itu rukun dari adzan. Sebagian lainnya mengatakan itu bukan rukun dari adzan tapi itu rukun mustahab dari adzan, dan sebagian yang lain mengatakan bahwa itu bukan rukun dari adzan dan juga bukan rukun mustahab.
Mari sejenak kita membuka salah satu kitab sandaran orang-orang syiah yang sangat jelas mengatakan bahwa syahadah tersebut tidak berasas. Dalam kitab yang terkenal Man La Yahdhuruhu Alfaqiih jilid 1 pada bab Adzan dan Iqamah Allamah Syeikh Shaduq setelah menyebutkan lafadz-lafadz adzan, beliau berkata: “Dan ini adalah bacaan adzan yang benar tidak kurang dan juga tidak ditambah dan orang orang mufawwidhah mudah-mudahan Allah melaknatnya telah meletakkan akhbar dengan menambahkan bacaan (Asyhadu anna aliyyan waliyullah)”.
Disaat sebagian orang syiah mengatakan bahwa orang sunni telah melakukan bid’ah dengan menambahkan dalam adzan ( Assholatu khairun mina annaum), ternyata sebagian orang syiah pun melakukan bidah dengan menambahkan bacaan dalam adzannya. Jadi, sudah saatnya kita bercermin dan menghilangkan fanatisme di benak kita sehingga bisa melihat suatu hal secara objektif.
Sabtu, 16 Januari 2010
Seruan ulama-ulama mengenai sunni- syiah
Agresi militer Amerika Serikat dan sekutunya ke Irak empat tahun lalu, tak hanya berhasil menggulingkan Presiden Saddam Hussein dari tampuk kepemimpinannya. Mereka juga menanam bom waktu: pertikaian antarkelompok. Lebih tepatnya, antara kubu Syiah dan Suni.
Ulama terkemuka asal Damaskus, Suriah, Syekh Abdullah An-Nidzam mengungkapkan konflik Syiah-Suni yang terjadi belakangan ini di Irak, bukanlah murni konflik ideologi antarmereka. “Konflik diciptakan oleh agresor militer Amerika Serikat dan sekutunya,” ujarnya, di sela-sela Konferensi Ulama dan Pemimpin Islam untuk Rekonsiliasi Irak di Bogor Rabu 4/4).
Sejak awal invasi militer Amerika Serikat ke Irak tahun 2003, sambung An-Nidzam, pihaknya mengaku sudah sangat khawatir hal ini bakal terjadi. Dekan Fakultas Dirasah Islamiyah pada Universitas Islam Damaskus ini menyatakan perlunya perhatian umat Islam dari seluruh dunia untuk segera mengakhiri konflik dan penderitaan rakyat Irak.
Sejak dulu, kata Syeikh Az-Nidzam, dalam Islam tidak dikenal istilah pengkotak-kotakan. Kita sekarang ini justru sangat menyayangkan sikap Amerika Serikat maupun Israel yang terus mendorong terciptanya upaya pengkotak-kotakan antar kelompok Islam di Irak.
Dalam sejarah Irak, sejak berabad-abad lamanya antara Suni dan Syiah di Irakdapat hidup berdampingan dan rukun, tanpa ada gejolak apalagi peperangan seperti yang terjadi sekarang ini. ''Ini memang siasat mereka, ketika ingin menghancurkan satu negara, maka mereka ciptakan kelompok-kelompok,'' tegasnya.
Syekh AEM Hussein dari Universitas Al Azhar menyuarakan hal yang sama. Antara Suni dan Syiah, kata dia, sama-sama Islam. ''Mereka menyembah Tuhan yang satu, mereka shalat menghadap kiblat yang sama. Mereka sama-sama Muslim.''
Sedang menurut Jalaluddin Rakhmat, cendekiawan Muslim, kekerasan di Irak dipicu oleh kepentingan politik. Ada provokator yang merancang konflik sosial yang kini terjadi di Irak. “Tak disebabkan oleh perbedaan teologis antara Suni-Syiah. Selama ini perbedaan itu ada namun tak menjadi masalah yang melahirkan sebuah konflik.
Politik adu domba
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi yang bersama-sama Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhamadiyah Prof Dr Din Syamsuddin menjadi penggagas Konferensi Internasional Ulama dan Pimpinan Islam Dunia untuk Rekonsiliasi Irak mengungkapkan, apa yang dilakukan AS di Irak adalah bentuk politik adu domba. ''Dendam sejarah dibangkitkan kembali, tempat-tempat suci dirusak melalui gerakan intelijen untuk menciptakan peperangan antara kelompok Suni dan Syiah, sehingga dengan demikian pertentangan ini sebenarnya didesain untuk kemenangan penjajah secara gratis.''
Pandangan sama diungkapkan Din Syamsuddin. “Peperangan yang terjadi di Irak tahun 2003, tak hanya menimbulkan korban dari orang-orang yang tidak berdosa, tapi juga telah menimbulkan kedengkian, iri dan permusuhan di tengah masyarakat Irak. Kemudian timbul peperangan antar kelompok dan etnis serta fitnah yang besar di Irak,” ujarnya.
Sarat konflik?
Benarkah sejarah Syiah-Suni selalu kelam dan penuh permusuhan? Salah seorang ketua PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) Prof Dr Said Agil Siraj mengungkapkan di sejumlah negara Islam maupun Timur Tengah yang hidup faham Suni dan Syiah, dapat hidup rukun dan berdampingan. ''Bahkan Mufti Syria Badruddin Hassun yang berasal dari Suni, fatwa-fatwanya sangat didengar oleh kelompok Syiah,'' jelas Kiai Siraj seraya menambahkan kondisi serupa terjadi di Saudi Arabia, Pakistan, maupun Libanon. ''Bahkan di Libanon Selatan Hizbullah yang dari kelompok Syiah yang sangat berperan dalam mengusir penjajah Israel didukung juga oleh kelompok Suni.''
Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta ini mengakui sepanjang sejarah sebenarnya perbedaan yang terjadi antara Suni dan Syiah pada soal kekuasaan atau lazim disebut imamah. Karena itu, kelompok Syiah memasukkan masalah imamah ke dalam rukun agama dan sejak dini anak-anak mereka diajarkan pengetahuan tentang imamah.
Dalam perkembangan Islam, kedua kelompok Suni dan Syiah sama-sama memberikan andil dan peran yang sangat besar dalam peradaban Islam,'' tegas kyai Siraj.
Ia lalu menyebut sejumlah tokoh Syiah yang memberikan andil besar bagi kemajuan Islam. Sebut saja misalnya Ibnu Sina, seorang filsuf yang juga dikenal sebagai seorang dokter, Jabir bin Hayyan yang dikenal sebagai penemu ilmu hitung atau aljabbar, dan seorang sufi Abu Yazid al Busthami. Mereka yang beraliran Syiah ini telah menyumbangkan ilmunya bagi kemajuan Islam. “Jadi, kedua kelompok ini adalah aset yang sangat berharga bagi umat Islam.
Ketua Umum Ikadi (Ikatan Dai Indonesia) Prof Dr Ahmad Satori menyatakan potren kehidupan yang rukun antara kelompok Suni dan Syiah juga dapat dilihat di Mesir, Saudi Arabia, Niger, dan negara Islam lainnya.''Bahkan di Iran, terdapat juga kelompok Suni dan ternyata mereka dapat hidup rukun dengan kelompok Syiah yang mayoritas,'' ujar Satori.
Satori memandang perlunya sosialisasi fiqh i'tilaf (Fiqh Penyatuan) dan bukan fiqh ikhtilaf (fiqh perbedaan). ''Yang kita perlukan sekarang ini adalah fiqh i'tilaf supaya umat Islam menjadi kuat dan tidak gampang diadudomba seperti yang terjadi di Irak,'' tegasnya. (Dikutip dari majalah Republika,Bukan Konflik Sunni-Syiah)
Ulama terkemuka asal Damaskus, Suriah, Syekh Abdullah An-Nidzam mengungkapkan konflik Syiah-Suni yang terjadi belakangan ini di Irak, bukanlah murni konflik ideologi antarmereka. “Konflik diciptakan oleh agresor militer Amerika Serikat dan sekutunya,” ujarnya, di sela-sela Konferensi Ulama dan Pemimpin Islam untuk Rekonsiliasi Irak di Bogor Rabu 4/4).
Sejak awal invasi militer Amerika Serikat ke Irak tahun 2003, sambung An-Nidzam, pihaknya mengaku sudah sangat khawatir hal ini bakal terjadi. Dekan Fakultas Dirasah Islamiyah pada Universitas Islam Damaskus ini menyatakan perlunya perhatian umat Islam dari seluruh dunia untuk segera mengakhiri konflik dan penderitaan rakyat Irak.
Sejak dulu, kata Syeikh Az-Nidzam, dalam Islam tidak dikenal istilah pengkotak-kotakan. Kita sekarang ini justru sangat menyayangkan sikap Amerika Serikat maupun Israel yang terus mendorong terciptanya upaya pengkotak-kotakan antar kelompok Islam di Irak.
Dalam sejarah Irak, sejak berabad-abad lamanya antara Suni dan Syiah di Irakdapat hidup berdampingan dan rukun, tanpa ada gejolak apalagi peperangan seperti yang terjadi sekarang ini. ''Ini memang siasat mereka, ketika ingin menghancurkan satu negara, maka mereka ciptakan kelompok-kelompok,'' tegasnya.
Syekh AEM Hussein dari Universitas Al Azhar menyuarakan hal yang sama. Antara Suni dan Syiah, kata dia, sama-sama Islam. ''Mereka menyembah Tuhan yang satu, mereka shalat menghadap kiblat yang sama. Mereka sama-sama Muslim.''
Sedang menurut Jalaluddin Rakhmat, cendekiawan Muslim, kekerasan di Irak dipicu oleh kepentingan politik. Ada provokator yang merancang konflik sosial yang kini terjadi di Irak. “Tak disebabkan oleh perbedaan teologis antara Suni-Syiah. Selama ini perbedaan itu ada namun tak menjadi masalah yang melahirkan sebuah konflik.
Politik adu domba
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi yang bersama-sama Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhamadiyah Prof Dr Din Syamsuddin menjadi penggagas Konferensi Internasional Ulama dan Pimpinan Islam Dunia untuk Rekonsiliasi Irak mengungkapkan, apa yang dilakukan AS di Irak adalah bentuk politik adu domba. ''Dendam sejarah dibangkitkan kembali, tempat-tempat suci dirusak melalui gerakan intelijen untuk menciptakan peperangan antara kelompok Suni dan Syiah, sehingga dengan demikian pertentangan ini sebenarnya didesain untuk kemenangan penjajah secara gratis.''
Pandangan sama diungkapkan Din Syamsuddin. “Peperangan yang terjadi di Irak tahun 2003, tak hanya menimbulkan korban dari orang-orang yang tidak berdosa, tapi juga telah menimbulkan kedengkian, iri dan permusuhan di tengah masyarakat Irak. Kemudian timbul peperangan antar kelompok dan etnis serta fitnah yang besar di Irak,” ujarnya.
Sarat konflik?
Benarkah sejarah Syiah-Suni selalu kelam dan penuh permusuhan? Salah seorang ketua PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) Prof Dr Said Agil Siraj mengungkapkan di sejumlah negara Islam maupun Timur Tengah yang hidup faham Suni dan Syiah, dapat hidup rukun dan berdampingan. ''Bahkan Mufti Syria Badruddin Hassun yang berasal dari Suni, fatwa-fatwanya sangat didengar oleh kelompok Syiah,'' jelas Kiai Siraj seraya menambahkan kondisi serupa terjadi di Saudi Arabia, Pakistan, maupun Libanon. ''Bahkan di Libanon Selatan Hizbullah yang dari kelompok Syiah yang sangat berperan dalam mengusir penjajah Israel didukung juga oleh kelompok Suni.''
Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta ini mengakui sepanjang sejarah sebenarnya perbedaan yang terjadi antara Suni dan Syiah pada soal kekuasaan atau lazim disebut imamah. Karena itu, kelompok Syiah memasukkan masalah imamah ke dalam rukun agama dan sejak dini anak-anak mereka diajarkan pengetahuan tentang imamah.
Dalam perkembangan Islam, kedua kelompok Suni dan Syiah sama-sama memberikan andil dan peran yang sangat besar dalam peradaban Islam,'' tegas kyai Siraj.
Ia lalu menyebut sejumlah tokoh Syiah yang memberikan andil besar bagi kemajuan Islam. Sebut saja misalnya Ibnu Sina, seorang filsuf yang juga dikenal sebagai seorang dokter, Jabir bin Hayyan yang dikenal sebagai penemu ilmu hitung atau aljabbar, dan seorang sufi Abu Yazid al Busthami. Mereka yang beraliran Syiah ini telah menyumbangkan ilmunya bagi kemajuan Islam. “Jadi, kedua kelompok ini adalah aset yang sangat berharga bagi umat Islam.
Ketua Umum Ikadi (Ikatan Dai Indonesia) Prof Dr Ahmad Satori menyatakan potren kehidupan yang rukun antara kelompok Suni dan Syiah juga dapat dilihat di Mesir, Saudi Arabia, Niger, dan negara Islam lainnya.''Bahkan di Iran, terdapat juga kelompok Suni dan ternyata mereka dapat hidup rukun dengan kelompok Syiah yang mayoritas,'' ujar Satori.
Satori memandang perlunya sosialisasi fiqh i'tilaf (Fiqh Penyatuan) dan bukan fiqh ikhtilaf (fiqh perbedaan). ''Yang kita perlukan sekarang ini adalah fiqh i'tilaf supaya umat Islam menjadi kuat dan tidak gampang diadudomba seperti yang terjadi di Irak,'' tegasnya. (Dikutip dari majalah Republika,Bukan Konflik Sunni-Syiah)
Kamis, 14 Januari 2010
Kata mutiara
Bersiap-siaplah untuk perjalananmu menuju akhirat.
Perbaikilah bekalmu sebelum datang ajalmu.
perbanyaklah membawa bekal sesungguhnya sebaik baiknya bekal adalah takwa.
Ketahuilah sesungguhnya engkau mencari dunia dan kematian mencarimu.
Janganlah engkau membawa beban harimu yang mana hari itu belum datang.
Ketahuilah sesungguhnya engkau tidak mendapat harta lebih dari apa yang kau butuhkan, jika itu lebih maka itu bukanlah kemilikanmu.
Ketahuilah bahwa dunia pada setiap yang halal ada hitungannya dan yang syubhat ada pertanggung jawabannya dan yang haram hukuman.
Beramalah untuk duniamu seakan akan kau hidup selamanya dan beramallah untuk akhiratmu seakan akan kau akan mati besok.
Jika engkau menginginkan kemulyaan tanpa golongan dan kehebatan tanpa pangkat keluarlah dari kehinaan maksiat kepada Allah menuju kemulyaan ta’at kepada Allah.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Wahai putra Adam berhentilah dengan apa yang Allah telah haramkan kepada kalian maka engkau akan menjadi hambanya,
Ridholah dengan apa yang Dia berikan maka engkau akan menjadi kaya.
Berbuat baiklah kepada tetanggamu maka engkau akan menjadi seorang muslim,
Temani manusia seperti mana engkau ingin ditemani niscaya engkau akan menjadi orang yang adil.
Sesungguhnya di sisi kalian ada sekelompok kaum yang mengumpulkan harta untuk membangun masjid dan sesungguhnya bangunan yang mereka dirikan itu tidak bernilai disisi Allah dan apa yang mereka kerjakan sia sia dan tempat tinggal mereka sama dengan kubur.
Wahai putra Adam kalian masih menghancurkan umur kalian semenjak kau jatuhkan kepalamu kemuka bumi dan ketahuilah bahwa orang beriman selalu mencari bekal sementara orang-orang kafir berfoya foya.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku kira bahwa orang yang tidak memiliki apa-apa adalah hina dan aku kira orang yang memiliki harta adalah orang yang mulia, akan tetapi orang yang mulia adalah orang yang ta’at kepada Allah dan orang yang hina adalah orang bermaksiat kepada Allah.
Perbaikilah bekalmu sebelum datang ajalmu.
perbanyaklah membawa bekal sesungguhnya sebaik baiknya bekal adalah takwa.
Ketahuilah sesungguhnya engkau mencari dunia dan kematian mencarimu.
Janganlah engkau membawa beban harimu yang mana hari itu belum datang.
Ketahuilah sesungguhnya engkau tidak mendapat harta lebih dari apa yang kau butuhkan, jika itu lebih maka itu bukanlah kemilikanmu.
Ketahuilah bahwa dunia pada setiap yang halal ada hitungannya dan yang syubhat ada pertanggung jawabannya dan yang haram hukuman.
Beramalah untuk duniamu seakan akan kau hidup selamanya dan beramallah untuk akhiratmu seakan akan kau akan mati besok.
Jika engkau menginginkan kemulyaan tanpa golongan dan kehebatan tanpa pangkat keluarlah dari kehinaan maksiat kepada Allah menuju kemulyaan ta’at kepada Allah.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Wahai putra Adam berhentilah dengan apa yang Allah telah haramkan kepada kalian maka engkau akan menjadi hambanya,
Ridholah dengan apa yang Dia berikan maka engkau akan menjadi kaya.
Berbuat baiklah kepada tetanggamu maka engkau akan menjadi seorang muslim,
Temani manusia seperti mana engkau ingin ditemani niscaya engkau akan menjadi orang yang adil.
Sesungguhnya di sisi kalian ada sekelompok kaum yang mengumpulkan harta untuk membangun masjid dan sesungguhnya bangunan yang mereka dirikan itu tidak bernilai disisi Allah dan apa yang mereka kerjakan sia sia dan tempat tinggal mereka sama dengan kubur.
Wahai putra Adam kalian masih menghancurkan umur kalian semenjak kau jatuhkan kepalamu kemuka bumi dan ketahuilah bahwa orang beriman selalu mencari bekal sementara orang-orang kafir berfoya foya.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku kira bahwa orang yang tidak memiliki apa-apa adalah hina dan aku kira orang yang memiliki harta adalah orang yang mulia, akan tetapi orang yang mulia adalah orang yang ta’at kepada Allah dan orang yang hina adalah orang bermaksiat kepada Allah.
Adam as
Perjalanan Adam ke Bumi
Sebuah opini yang asyik kiranya ketika kita membahas dan mengkaji apa sebenarnya yang terjadi pada Adam as ketika dia diciptakan,kehidupannya disurga,dan terusirnya dari surga. Banyak kita dengar dari kitab – kitab sejarah para nabi bahkan dalam kitab – kitab samawi (Alqur’an,Taurat,Injil,dan Zabur)tentang kisah ayah manusia ini,namun sayangnya sebagian dari mereka melihat Adam dari kacamata yang salah sehingga para pengkaji menyimpulkan bahwa Adam telah melakukan dosa yang berbuntut terusirnya Adam dari surga.
Ketika kita merenungi ayat-ayat alqur’an yang mana Allah telah turunkan kepada penutup para nabi yakni Muhammad Saww, kita akan dapati bahwa penisbahan dosa kepada Adam adalah sebuah statment yang salah. Kenapa??? Mari kita bahas bersama tentang apa sebenarnya yang terjadi kepada Adam as.
Sejenak kita simak pendapat-pendapat dari ulama-ulama islam baik syiah maupun sunnah tentang Adam as. Seorang mufti Baghdad pada zamannya Syeikh al-Alusii dalam tafsirnya Ruh alma’ani menjelaskan bagian-bagian dan macam-macam wajah yang terlihat pada surat Al-Baqarah beliau berkata: وأما النوع الرابع : وهو الذي يقع في أفعالهم ، فقد اختلفت الأمة فيه على خمسة أقوال . أحدها : قول من
جوز عليهم الكبائر على جهة العمد وهو قول الحشوية . والثاني : قول من لا يجوز عليهم الكبائر لكنه يجوز عليهم الصغائر على جهة العمد إلا ما ينفر كالكذب والتطفيف وهذا قول أكثر المعتزلة . القول الثالث : أنه لا يجوز أن يأتوا بصغيرة ولا بكبيرة على جهة العمد البتة ، بل على جهة التأويل وهو قول الجبائي . القول الرابع : أنه لا يقع منهم الذنب إلا على جهة السهو والخطأ ولكنهم مأخوذون بما يقع منهم على هذه الجهة وإن كان ذلك موضوعاً عن أمتهم وذلك لأن معرفتهم أقوى ودلائلهم أكثر ، وأنهم يقدرون من التحفظ على ما لا يقدر عليه غيرهم . القول الخامس : أنه لا يقع منهم الذنب لا الكبيرة ولا الصغيرة لا على سبيل القصد ولا على سبيل السهو ولا على سبيل التأويل والخطأ ، وهو مذهب الرافضة ، واختلف الناس في وقت العصمة على ثلاثة أقوال : أحدها : قول من ذهب إلى أنهم معصومون من وقت مولدهم وهو قول الرافضة ، وثانيها : قول من ذهب إلى أن وقت عصمتهم وقت بلوغهم ولم يجوزوا منهم ارتكاب الكفر والكبيرة قبل النبوة ، وهو قول كثير من المعتزلة ، وثالثها : قول من ذهب إلى أن ذلك لا يجوز وقت النبوة ، أما قبل النبوة فجائز ، وهو قول أكثر أصحابنا وقول أبي الهذيل وأبي علي من المعتزلة والمختار عندنا أنه لم يصدر عنهم الذنب حال النبوة ألبتة لا الكبيرة ولا الصغيرة ، ويدل عليه وجوه : أحدها : لو صدر الذنب عنهم لكانوا أقل درجة من عصاة الأمة وذلك غير جائز ، بيان الملازمة أن درجة الأنبياء كانت في غاية الجلال والشرف
Beliau mempresentasikan pandangan-pandangan seluruh pendapat ulama baik syiah maupun sunnah. Setelah beliau menyebutkan seluruhnya, beliau berpendapat bahwa melakukan dosa baik besar maupun kecil sangat tidak layak bagi anbiya’, beliau melihat dari banyak sisi salah satunya adalah ketika nabi berbuat dosa maka mereka para nabi lebih rendah daripada orang-orang yang bermaksiat padahal maqam anbiya’ jauh lebih mulia dan terhormat dibandingkan manusia biasa.
Seorang ahli tafsir kenamaan Al-Qurthubi di dalam menafsirkan surah albaqarah ayat ke 34 mengambil pendapat dari imam-imam mazhab ahlu-sunnah yaitu imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Syafi’i radhiyallahu anhum: وقال جمهور من الفقهاء من أصحاب مالك و أبي حنيفة و الشافعي : إنهم معصومون من الصغائر كلها كعصمتهم من الكبائر أجمعها لأنا أمرنا باتباعهم في أفعالهم وآثارهم وسيرهم أمرا مطلقا من غير التزام قرينة فلو جوزنا عليهم الصغائر لم يمكن الاقتداء بهم إذ ليس كل فعل من أفعالهم يتميز مقصده من القربة والإباحة أو الحظر أو المعصية ولا يصح أن يؤمر المرء بامتثال أمر لعله معصية لا سيما على من يرى تقديم الفعل على القول إذا تعارضا من الأصوليين
Para imam ahlus sunnah berpendapat bahwa mereka para nabi itu suci dan mereka tidak pernah melakukan dosa besar maupun kecil. Alasan mereka adalah karena Allah Swt telah memerintahkan kita untuk mengikuti mereka. Nah, ketika mereka para nabi melakukan dosa kecil maka kita tidak bisa mencontoh mereka, dan ini sangat bertentangan dengan tujuan pengutusan para nabi-nabi yang mana mereka diutus untuk menjadi suri tauladan dalam kehidupan manusia.
Allah Swt dalam surat Al-Baqarah ayat 30 berkata kepada malaikat bahwa Allah akan menjadikan di muka bumi ini seorang pemimpin. Ketika kita cermati dengan seksama pada ayat tersebut terlihat jelas bahwa tempat tinggal manusia bukanlah di surga tetapi di bumi. Disini timbul pertanyaan lalu kenapa Adam tinggal disurga??? Dari sinilah kita mulai mencermati ada apa gerangan Allah menempatkan Adam di surga sebelum di bumi yang mana bumi adalah tempat dia diciptakan.
Allamah thaba’tabai dalam tafsirnya berkenaan dengan tempat Adam tinggal berkata: و سياق الآيات و خاصة قوله تعالى في صدر القصة: إني جاعل في الأرض خليفة يعطي أن آدم (عليه السلام) إنما خلق ليحيا في الأرض و يموت فيها و إنما أسكنهما الله الجنة لاختبارهما و لتبدو لهما سوآتهما حتى يهبطا إلى الأرض، و كذا سياق قوله تعالى في سورة طه: فقلنا يا آدم، و في سورة الأعراف: و يا آدم اسكن حيث سبك قصة الجنة مع قصة إسجاد الملائكة كلتيهما كقصة واحدة متواصلة، و بالجملة فهو (عليه السلام) كان مخلوقا ليسكن الأرض، و كان الطريق إلى الاستقرار في الأرض هذا الطريق، و هو تفضيله على الملائكة لإثبات خلافته، ثم أمرهم بالسجدة، ثم إسكان الجنة
Terlihat jelas dalam rentetan ayat-ayat pada surah Al-Baqarah bahwa Adam diciptakan untuk menjadi seorang pemimpin dimuka bumi hanya saja menempatan Adam di surga hanya untuk tempat Adam melatih diri dan Allah ingin supaya malaikat mengetahui akan ciptaan Allah yang mulia ini sehingga Allah memerintahkan seluruh makhluk untuk memberikan penghormatan kepadanya dengan cara bersujud.
Allah Swt sang pemilik alam semesta ingin memberikan sebuah pelajaran kepada Adam di dalam surat Al-Baqarah ayat 31 yang mana Allah dengan jelas mengabarkan kepada Adam tentang nama-nama sesuatu yang Adam butuhkan di dunia dan yang akan Adam kenakan, bukan hanya pembelajaran materi yang Allah inginkan akan tetapi pembelajaran ruhanipun Allah ajarkan. Di ayat berikutnya, setelah Allah memberikan Adam ilmu Allah memerintahkan para malaikat dan jin untuk bersujud kepada Adam, semua para makhluk bersujud untuk memberikan penghormatan kepada Adam kecuali sebagian dari jin yaitu Iblis. Iblis menolak untuk bersujud kepada Adam karena dia merasa lebih mulia daripada Adam. Kesombongan yang dilakukan oleh Iblis menghapus seluruh ibadahnya selama 6000 tahun kepada Allah. Terusirlah Iblis dari surga karena dia telah durhaka kepada Allah.
Adam yang polos tumbuh berkembang di surge dan Allah pun memberikannya pasangan yang serasi yaitu Hawa. Mereka berdua hidup di surga penuh dengan kesucian, keta’atan, dan keindahan seraya Allah berkata wahai Adam tinggallah engkau dan istrimu di surga dan makanlah apa yang engkau sukai dan hiduplah dengan penuh kenikmatan akan tetapi janganlah engkau mendekati pohon ini karena jika engkau mendekatinya engkau akan termasuk orang-orang yang zalim. Dari firman Allah ini timbul banyak pertanyaan yang membutuhkan jawaban,bukankah Adam adalah khalifah bumi??? Lalu kenapa Allah memerintahkan Adam dan hawa untuk tinggal di surga??? Bukankah surga kehidupan yang bebas tanpa adanya larangan??? Lalu kenapa Allah melarang Adam untuk tidak memakan pohon khuldi???
Disinilah kita temukan bahwa surga sebenarnya arena pembelajaran untuk Adam bukanlah tempat dimana Adam tinggal untuk selama-lamanya. Adam pun hidup mesra bersama istri yang dikasihi dan dicintainya. Mereka mematuhi semua yang Allah perintahkan akan tetapi tiba saatnya ujian bagi Adam dan hawa setelah mereka mendapatkan pembelajaran dari Allah untuk bekal mereka dibumi, Iblis makhluk yang Allah usir karena kesombongannya datang untuk membujuk Adam melanggar perintah Allah dengan memakan buah khuldi. Dengan tipu dayanya dia bersumpah atas nama Allah seraya berkata kepada Adam dan hawa bahwa pohon yang Allah larang kalian untuk memakannya adalah pohon keabadian yang setelahnya pohon itu terkenal dengan pohon khuldi (keabadian), Adam sang manusia lugu berpikir apakah ada makhluk yang berbohong dengan nama khaliknya!!! Adampun memakan pohon khuldi itu dengan keyakinan bahwa tidak ada satu makhluk pun yang berbohong setelah dia bersumpah dengan nama Allah. Allah Swt menegur Adam karena dia telah melanggar perjanjian tentang pohon tersebut. Hukuman yang diterima Adam adalah turunnya Adam ke bumi bersama dengan istrinya dan musuhnya Iblis.
Terlihat jelas bahwa Adam yang polos ini belum pernah mendapatkan ujian atau godaan semacam itu. Inilah pembelajaran ruhani yang Allah berikan kepada Adam seraya Allah berkata : “wahai Adam kau telah mengetahui bahwa Iblis adalah musuhmu maka kabarkanlah kepada anak cucumu bahwa engkau telah menikmati indahnya surga akan tetapi kau teperdaya oleh godaan Iblis sehingga engkau terusir dari surga.” Dari sini kita dapat melihat bahwa apa yang terjadi pada Adam bukanlah kesalahan atau dosa akan tetapi itu adalah sebuah percobaan yang Allah berikan kepada Adam agar ketika dia dibumi tidak lagi tergoda oleh Iblis dan agar dia memberi tahukan kepada anak cucunya bahwa penyebab dia terusir dari surga adalah atas godaan Iblis.
Allamah Syeikh Nasir Makarim Syirazi dalam tafsirnya mengemukakan pendapatnya tentang hikmah wujud Adam di surga :
بعد حادثة وسوسة إبليس، وصدور الأمر الإِلهي لآدم بالخروج من الجنّة، فهم آدم أنه ظلم نفسه، وأنه أُخرج من ذلك الجوّ الهاديء المنعّم على أثر إغواء الشيطان، ليعيش في جوّ جديد مليء بالتعب والنصب. وهنا أخذ آدم يفكر في تلافي خطئه، فاتجه بكل وجوده إلى بارئه وهو نادم أشدّ الندم.
وأدركته رحمة الله في هذه اللحظات كما تقول الآية (فَتَلَقّى آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَات فَتَابَ عَلَيْهِ، إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الْرَّحِيمُ)
Setelah kejadian yang Adam alami yang mana menyebabkan terusirnya dari surge, Adam pun sadar dan paham jika dia telah melakukan kesalahan dan dia menyesali perbuatan itu karena dia mengikuti godaan Iblis dia harus keluar dari suasana yang penuh kenikmatan menuju areal yang penuh lelah dan usaha. Dari sini Adam berfikir tentang kesalahannya dan meminta maaf kepada tuhannya.
Jadi apa yang dilakukan Adam semata mata hanyalah uji coba untuk Adam dan jelas apa yang terjadi kepada ayah manusia ini adalah potret besar bagi kehidupan kita. Ketika kita bisa mengalahkan tipuan Iblis maka surga menanti kita akan tetapi ketika kita teperdaya olehnya maka neraka yang menyala-nyala siap sedia untuk membakar kita.
Kiranya inilah kisah ayah kita Adam maka kelirulah jika ada yang berkata bahwa kita di bumi ini karena ayah kita Adam dulu pernah berbuat dosa lalu dia terusir dari surge. Dan salahlah yang mengatakan bahwa Adam telah berbuat dosa karena telah melanggar perjanjian dari tuhannya.
Jumat, 08 Januari 2010
Vibrasi

Hampir seharian tema vibrasi jadi perbincangan kemarin saat saya berkunjung ke Pemakaman Ammar bin Yassir. Singkat kata, vibrasi adalah gelombang yang muncul terkait dengan apa yang kita rasakan maupun pikirkan. Jadi apa pun yang kita pikirkan akan memberikan efek gelombang ke diri maupun luar kita.
Salam dari Baabilah
Diskusi panjang dengan Taufiq Haddad, salah seorang yang berkunjung ke Baabilah, Syiria, tempat saya menuntut ilmu selama setahun ini mendorong dan menjadi salah satu alasan hadirnya blog ini.Sikap saya yang apriori dengan blog mulai terkikis setelah diskusi yang cukup hangat dengan teman baik saya itu. Setidaknya ia memberi sebuah sudut pandang baru tentang manfaat blog bagi saya.
Saya berharap blog ini memberi ruang bagi saya untuk menuliskan apa pun yang menjadi beban selama ini, dan keresahan saya melihat beragam hal di luar.
Semoga ada urung rembuk, saran, kritik, agar blog ini bermanfaat buat saya pribadi, dan bagi yang membacanya.
Langganan:
Postingan (Atom)






