Minggu, 24 Januari 2010

Kemana Qur’anku???


Ketika itu pagi cerah aku beranjak dari rumah tercinta menuju tempat dimana aku menuntut ilmu (Hauzah). Hauzah adalah tempat dimana biasanya diajarkan ilmu-ilmu agama seperti fiqh, aqidah, mantiq, dan ushul. Aku berjalan dengan harapan aku akan mendapatkan sesuatu sambil kutatap langit yang biru dengan tersenyum kulanjutkan perjalananku. Hauzah dari rumahku berjarak 5 km, jadi aku harus naik angkutan untuk sampai ke hauzahku.
Sampai aku di hauzah setelah seorang ustad memberi materi, kita diberi waktu 1 jam untuk berdiskusi tentang apa yang kita dapat dari pembelajaran kita. Pada saat aku dan teman-teman hauzahku berdiskusi, kudengar dari awal pembahasan mereka hanya berbicara hadis-hadis dari Imam-Imam ahlulbait. Dalam hati kecil aku bertanya apa mereka tidak punya Rosul? Atau mereka tidak punya Al-Qur’an sebagai sumber pertama mereka. Kenapa mereka selalu menyebut imam ini imam itu berkata seakan mereka tidak kenal dengan firman Allah dan sabda Nabi.
Berprasangka baik lebih baik daripada bersangka buruk. Aku berkata dalam hatiku mungkin pada pembahasan itu mereka tidak perlu menunjukkan bukti atau dalil-dalil yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadis nabi atau mungkin masalah itu tidak terlalu sulit. Seminggu aku lihat perkembangan mereka, tapi mereka tidak berhenti menggunakan hujjah dengan perkataan imam fulan dan fulan. Aku selalu bertanya kenapa mereka jauh dari al-Qur’an? Apa itu yang diajarkan oleh ulama-ulama hauzah? Aku harus menemukan jawaban itu dengan cara aku harus membaca hadis-hadis dari imam-imam ahlulbait tentang Al-Qur’an dan kitab-kitab karangan ulama-ulama hauzah agar aku bisa menegur mereka.
Syeikh Kulaini seorang ahli hadis yang mana karyanya Al-Kafi dijadikan sebagai rujukan oleh mazhab syiah menukil sebuah riwayat dari Ja’far As-Shadiq (ra) :

علي بن إبراهيم، عن أبيه، عن الحسن بن أبي الحسين الفارسي، عن سليمان بن جعفر الجعفري، عن السكوني، عن أبي عبدالله عليه السلام قال: قال رسول الله صلى الله عليه وآله: إن أهل القرآن في أعلى درجة من الآدميين ما خلا النبيين و
المرسلين فلا تستضعفوا أهل القرآن حقوقهم فإن لهم من الله العزيز الجبار لمكانا عليا.

Ja’far Shadiq (ra) berkata: Rosulullah berkata: “Sesungguhnya ahli Qur’an berada pada derajat yang paling atas dari anak-anak adam kecuali para nabi dan rosul maka janganlah kalian meremehkan hak hak ahli Qur’an sesungguhnya mereka disisi Allah memiliki tempat yang tinggi.”
Sungguh mulia orang-orang yang perhatian terhadap Al-Qur’an sehingga Rosulullah memerintahkan kita untuk menjaga hak-hak mereka, sungguh beruntung seorang muslim yang menjadi teman Al-Qur’an karena Allah menyediakan tempat yang mulia untuk mereka.
Seorang ahli hadis dan seorang mujtahid Sayyid Muhammad Taqi Modarresi dalam karyanya Fi Rihab Al-Qur’an (Di Bawah Naungan Al-Qur’an) setelah beliau menjelaskan pentingnya Al-Qur’an dalam menghadapi era globalisasi ini, beliau menganjurkan kita untuk tidak berlepas dari kitab Allah tersebut. Beliau memberi judul khusus dalam kitab tersebut yaitu nahnu wa Al-Qur’an (Kita dan Al-Qur’an) dalam penjelasannya yang panjang beliau berkesimpulan bahwa pada zaman modern ini kita harus lebih dekat kepada Al-Qur’an karena orang-orang yang ingkar terhadap Al-qur’an pun pada saat ini mencari pencerahan ruhani dan pikiran dari Al-Qur’an seraya beliau membawakan ayat Al-Qur’an pada surat Al-Israa’ ayat ke-9 Allah swt berfirman:
…….إِنَّ هَذَا الْقُرْءَانَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِين.
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada jalan yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang beriman.”
Ketika kita merasa bahwa jalan yang kita tempuh adalah jalan yang lurus maka janganlah lupa bahwa Allah dalam kitabnya menjelaskan bahwa dengan al-Qur’anlah kita bisa menemukan jalan yang terlurus. Banyak kita lihat ketidakpedulian terhadap al-Qur’an terjadi pada era FB ini. Mungkin sudah saatnya kita membersihkan al-Qur’an yang sudah tebal dengan debu. Bukan hanya kita membersihkan mushafnya akan tetapi juga harus membersihkan isinya, karena isi al-Qur’an sudah menjadi alat kampanye, bisnis, dan komoditi agama Allah.
Kiranya saya akan tutup tulisan ini dengan nasehat dari Sayyidina Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Alhusein bin Ali bin Abi Thalib (ra):
"ثلاثة يشكون إلى الله عز وجل مسجد خراب لا يصلي فيه أهله، وعالم بين جهال، ومصحف معلق قد وقع عليه الغبار لا يقرأ فيه"
“Tiga yang akan datang mengadu kepada Allah masjid yang rusak karena tidak ada yang menempatinya untuk sholat, orang alim diantara orang orang bodoh, mushaf yang tebal oleh debu karena tidak perah dibaca”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar