Berjalan ke kota kota suriah adalah sesuatu yang menarik, pada tanggal 6 januari tepatnya saya dan teman teman saya berkeinginan untuk melangsungkan perjalanan ke sebuah kota kecil ditimur suriah yaitu Raqqah untuk berziarah ke makam sahabat nabi yang populer Ammar Bin Yaser. Waktu telah menunjukkan pukul 09.00 tepat waktu suriah, kami berjalan dari rumah tercinta kami Babbila menuju ke terminal bus boulman. Sesampainya di terminal kita mendapatkan kendala karena kita tidak membawa paspor. Peraturan yang dibentuk oleh pemerintah suriah untuk menjaga keamanan Negara adalah jika kita ingin keluar dari damaskus maka para turis diharuskan membawa paspor.
Diskusi panjang terjadi di antara kita tentang apakah kita harus melanjutkan perjalanan atau kita tunda? Salah seorang dari teman saya berkata lebih baik kita minta teman kita yang di Babbila untuk membawakannya ke terminal. Opsi ini kita sepakati bersama dan sambil menunggu teman kita datang, kita berkunjung ke makam sahabat nabi Hujr bin Ady yang terletak tidak jauh dari terminal bus tersebut. Hujr bin Ady adalah sahabat nabi yang terkenal dengan keberaniannya. Beliau berasal dari kabilah Kindah yang terkenal dengan ketangguhannya dalam berperang. Kabilah ini mempunyai posisi yang terpandang di wilayah jazirah arabiah yang sekarang dikenal Yaman.
Suasana ziarah yang begitu khusyuk membuat kita lupa akan waktu. Tak terasa adzan Zuhur pun diperdengarkan dan ketika sampai kepada lafadz adzan yang biasa dipakai oleh orang syiah yang dikenal dengan syahadah tsalisah (Asyhadu anna aliyyan waliyullah/hujjatullah). Saya menyeletuk bahwa lafadz ini tak berasas atau dengan kata lain bidah. Tetapi ucapan saya tidak digubris oleh teman-teman saya karena mereka sedang sibuk untuk mencari tempat wudhu’.
Seusai kita ziarah dan sholat di makam Hujr bin Ady yang tepatnya di daerah Adzraa’, kita kembai ke Boulman untuk beranjak ke Raqqah. Paspor kita telah berada di tangan lalu kita menaiki bus alsaeed dari Damaskus ke Raqqah dengan jarak tempuh 560km. Tibalah kita di Raqqah sekitar pukul 10 malam dan kita langsung beranjak dari terminal raqqah menuju pemakaman Sayyidina Ammar bin Yaser. Kita bermalam di asrama Sayyidina Ammar yang biasa disediakan untuk para peziarah.
Jamuan dari Sayyidina Ammar sangat luar biasa. Kita diberi kamar VIP karena kebetulan ketua makam adalah teman salah satu dari teman jalan kita yaitu Ahmad Al-Athas. Malam itu setelah kita makan malam terjadi diskusi panjang antara kita dengan tema yang sangat menarik yaitu “Tawassul.” Diskusi panjang yang akhirnya menghasilkan bahwa tidak ada yang bisa memberi syafaat kecuali atas izin Allah. Pagi harinya kita berziarah ke Sayyidina Ammar dan 2 sahabat Imam Ali bin Abi Thalib.
Setelah kami berziarah, seorang syeikh yang mana beliau adalah musyrif makam tersebut mengundang kami untuk sarapan pagi bersama. Beliau menjelaskan tentang keadaan kota Raqqah seraya berkata, “Pengikut syiah Ahlulbait disini hanya 100 orang, tapi Alhamdulillah kami tidak mengalami gangguan Cuma terkadang ada orang yang iseng yang melempar batu ke areal makam.” Azan zuhur akan segera dikumandangkan, salah satu teman kita bertanya, “Apa ketika azan anda membaca syahadah salisah?” Beliau menjawab, “iya,” seraya dia membawakan hadis-hadis tentang syahadah tersebut.
Ketika kita meneliti tentang syahadah salisah, kita akan temukan bahwa syahadah tersebut masih dipermasalahkan oleh para ulama syiah. Sebagian mereka mengatakan bahwa itu bukan rukun dari adzan akan tetapi itu sudah menjadi syiar bagi mazhab syiah. Sebagian lagi mengatakan bahwa itu rukun dari adzan. Sebagian lainnya mengatakan itu bukan rukun dari adzan tapi itu rukun mustahab dari adzan, dan sebagian yang lain mengatakan bahwa itu bukan rukun dari adzan dan juga bukan rukun mustahab.
Mari sejenak kita membuka salah satu kitab sandaran orang-orang syiah yang sangat jelas mengatakan bahwa syahadah tersebut tidak berasas. Dalam kitab yang terkenal Man La Yahdhuruhu Alfaqiih jilid 1 pada bab Adzan dan Iqamah Allamah Syeikh Shaduq setelah menyebutkan lafadz-lafadz adzan, beliau berkata: “Dan ini adalah bacaan adzan yang benar tidak kurang dan juga tidak ditambah dan orang orang mufawwidhah mudah-mudahan Allah melaknatnya telah meletakkan akhbar dengan menambahkan bacaan (Asyhadu anna aliyyan waliyullah)”.
Disaat sebagian orang syiah mengatakan bahwa orang sunni telah melakukan bid’ah dengan menambahkan dalam adzan ( Assholatu khairun mina annaum), ternyata sebagian orang syiah pun melakukan bidah dengan menambahkan bacaan dalam adzannya. Jadi, sudah saatnya kita bercermin dan menghilangkan fanatisme di benak kita sehingga bisa melihat suatu hal secara objektif.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar